 |
 |
 |
 |
 |
|
Wednesday, August 02, 2006
Entah apa yang ku rasa
Tak sedih pun bahagia
Semua berjalan begitu saja
Seperti angin tanpa suara
Di depan sana terlihat samar
Dingin dan senyap
Bosan aku menelusurinya
Lelah…
Seribu langkah ku tapaki sudah
Tak jua ku tiba di ujungnya
Yang ku rindu seberkas cahaya
Sinarnya terang tak menyilaukan
Namun hangatnya menyelimuti hati
Di mana bisa kau ku temui?
Posted at 04:52 pm by Andi
Permalink
Friday, June 30, 2006
Puff *mengelap keringat di dahi* J
Cukup berbangga minggu ini aku bisa menyelesaikan 2 buah buku yang menakjubkan. Meskipun sebenernya salah satu buku itu (La Tahzan) sudah mulai aku baca sejak pertengahan Maret 06, jadi lebih dari 3 bulan untuk menyelesaikannya, akhir-akhir ini aku emang jadi pembaca buku yang payah. Tapi untuk buku yang satu lagi, yaitu Ayat-ayat Cinta-nya Habiburrahman El Shirazy, aku cuma butuh waktu 2 hari untuk meyelesaikannya, cukup membanggakan, sekaligus memecahkan rekor tercepatku membaca buku yang sebelumnya dipegang oleh buku Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder pemberian Iyank (thanks ya yank) yang membutuhkan waktu tidak sampai 1 minggu untuk menyelesaikannya, padahal bukunya lumayan tebel.
|
Ada 2 faktor yang mendukung sehingga buku ini diselesaikan dengan cukup cepat disela-sela rutinitasku yang melelahkan setiap hari. Faktor yang pertama dan yang terpenting, adalah karena cerita dalam buku ini sendiri dengan karakter tokoh-tokohnya yang kuat, membuat aku jatuh cinta dengan novel ini dan ingin selalu membacanya. Semula aku pikir isinya hanya kisah percintaan "biasa" yang sedikit diberi bumbu nuansa Islami, makanya udah lama aku |
 | tahu tentang novel ini tapi baru aku beli bulan Maret lalu, dan baru mulai aku baca 2 hari lalu. Buku ini jadi urutan no 2 setelah La Tahzan dari total 5 buku yang sudah ngantri di kamarku untuk dibaca, maklum nafsu untuk membelinya masih lebih tinggi dari pada nafsu membaca yang masih sering angin-anginan.
Ayat-Ayat Cinta bercerita tentang keseharian seorang pelajar yang sedang berjuang menyelesaikan studinya di negri Seribu Menara, namun tentu saja tidak akan menarik jika hanya bercerita tentang kesehariannya saja, seting waktu dalam kehidupan si tokoh yaitu Fahri Abdullah dalam novel ini mungkin merupakan fase terpenting dalam kehidupannya, makanya ceritanya menjadi sangat menarik. Aku ga akan bercerita banyak tentang jalan ceritanya, karena tidak akan semenarik, se-menghipnotis dan se-mengharukan jika langsung membacanya. Aku cuma sedikit berbagi pandanganku tentang tokoh utama novel ini. Pada awalnya aku agak sinis dengan tokoh Fahri, karena akhlaknya mendekati sempurna, aku jadi mempertanyakan: masih adakah pemuda dengan akhlak semulia itu di jaman sekarang? He is too good to be exist on planet earth! Aku berhenti membaca beberapa waktu untuk memikirkannya. Tapi kemudian aku membalik pemikiranku, it's just a fiction book, no need to be asked, memang terlalu sempurna untuk jadi kenyataan, tapi bukankah akhlak pemuda muslim memang harusnya seperti itu? Aku malah jadi malu, betapa jauh aku dari contoh yang ideal itu. Sungguh buku yang memberikan inspirasi. Aku mengacungkan 2 jempol untuk Habiburrahman El Shirazy, terima kasih untuk cerita indah, romantis, relijius, mendebarkan sekaligus mengharukan.
Aku hampir aja lupa menyebutkan 1 faktor lain yang bikin aku bisa lumayan cepat membaca novel ini, dan aku pikir tidak kalah penting dengan alasan pertama, yaitu pada 2 hari kemarin, pertandingan sepak bola piala dunia sedang libur dulu sebelum memasuki babak perempat final hehehe
Ahhh dasar Andi 
Posted at 04:46 pm by Andi
Permalink
Sunday, April 02, 2006
Sungguh ironis mengamati kecenderungan orang-orang sekarang ini, sangat banyak orang yang lebih percaya pada tumpahan tinta di atas kertas putih atau surat elektronis di layar monitor dibandingkan dengan kata-kata yang keluar dari mulut manusia. “Kalo cuma omongan tidak bisa dibuktikan dan engga punya kekuatan hukum”…itu alasan kita pada umumnya, dan aku tidak meragukan kebenaran alasan itu. Aku cuma sedih, Tuhan udah merancang mulut dan lidah dengan sebaik-baik bentuk dan fungsi, tapi kok produknya (kata-kata) malah tidak lebih berarti dari ukiran tinta atau tulisan elektronis.
Di sisi lain aku juga maklum dengan keadaan seperti ini, mungkin karena manusia sendiri yang terlalu mengumbar kata-kata, mudah membuat janji-janji, berkata tanpa berpikir, atau ngomong sambil lalu, tapi ketika kata-katanya dipertanyakan kembali atau janjinya ditagih di lain waktu, dengan mudahnya bisa mengelak dengan dalih tidak pernah berkata seperti itu atau tidak pernah membuat janji seperti itu atau bahkan mungkin bilang “sudah lupa tuh”. Karena kata-kata akan segera menghilang setelah keluar dari mulut (kecuali lu rekam ya…), tidak bisa dibuktikan.
Aku jadi inget film Jerry Maguire, satu scene yang aku inget pas Jerry minta komitmen dari bapaknya seorang atlet baseball agar tetap menjadikan Jerry sebagai agen anaknya, bapaknya setuju dan bilang ga perlu tulisan, cukup dengan ucapan aja, karena kata-katanya lebih kuat dari pohon oak. In fact, dalam scene lanjutannya Jerry terpaksa kecewa karena bapaknya malah memilih saingannya Jerry sebagai agen anaknya. Kalo aku jadi Jerry, aku pasti mengatakan “mana kata-kata lu yang katanya lebih kuat dari pohon oak?“
Ya sudahlah….lebih baik D I A M ketika kata-kata sudah kehilangan maknanya…
Petuah bijak mengatakan “orang terhormat adalah orang yang bisa dipegang kata-katanya”, can I?
NB: kalo sempet ketemu aku dan ngobrol sama aku, jangan dengerin ucapanku, karena aku termasuk orang yang ga bisa dipegang kata-katanya, dan sekaligus aku orang yang tidak percaya dengan kata-kata JJJJ
Posted at 08:34 am by Andi
Permalink
Wednesday, March 15, 2006
Jangan Bersedih!!
Sebuah karya fenomenal dari DR. 'Aidh Al-Qarni, tentang petunjuk cara hidup (self help) yang mengajak kita untuk menikmati hidup dan mengubur dalam-dalam perasaan sedih dan cemas. Berbeda dengan buku-buku self help ala chicken soup, La Tahzan tidak hanya menekankan untuk meraih kebahagiaan duniawi saja tetapi juga ukhrawi. Buku ini terasa semakin mantap karena ditulis tidak hanya berdasarkan penalaran dan pengalaman Al-Qarni sendiri, tetapi juga mengambil pelajaran-pelajaran dari Al-Qur'an serta syair-syair yang menyentuh kalbu.
Semua orang pasti mengalami musibah, masalah, cobaan dan bencana dengan berbagai macam bentuk dan tingkat kesulitan dalam menghadapinya. Itu semua adalah sebuah keniscayaan yang tetap akan terjadi ketika Allah telah menuliskannya pada lembaran sejarah hidup kita. Sehingga ketika menghadapinya kita tak perlu gundah dan bersedih karena toh tetap akan terjadi, kesedihan hanya akan menambah berat musibah yang sedang kita hadapi. Al-Qarni menyebutkan bahwa syaraf-syaraf akan tetap tegang, kegundahan jiwa tak akan reda, dan kecemasan di dada tak akan pernah sirna, sebelum kita benar-benar beriman terhadap qadha' dan qadar. Yakinlah bahwa Allah selalu memberi yang terbaik buat kita meskipun pada saat kita menjalaninya terasa begitu berat, di setiap musibah pasti ada pelajaran yang berharga selain juga sarana penghapus dosa bila kita berhasil menyikapinya dengan sabar, dan semua pasti ada jalan keluarnya, maka mintalah pertolongan hanya kepada-NYA. Syukurilah segala nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah, nikmat yang sering kali tidak kita sadari sebelum merasakan susahnya ketika nikmat itu dicabut atau diambil untuk sementara waktu.
Al-Qarni mengajak kita untuk melupakan masa lalu bila hanya membuat kita bersedih, cukuplah masa lalu itu diambil pelajarannya lalu berkas-berkas masa lalu itu ditutup rapat-rapat lalu disimpan dalam ruang "penglupaan", diikat dengan tali yang kuat dalam penjara "pengacuhan" selamanya. Bersedih dan menyesali masa lalu itu tindakan bodoh, karena bersedih ataupun tidak, masa lalu itu tidak akan kembali, tidak juga bisa diubah, menyesalinya hanya akan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.
Hal yang sama juga diingatkan oleh Al-Qarni dalam menghadapi masa depan, La Tahzan! Hari esok masih berada di alam gaib, tak seorangpun dapat mengetahui secara pasti kejadian pada hari esok bahkan 1 detik ke depanpun masih menjadi rahasia Allah. Maka untuk apa bersedih dan mencemaskan segala sesuatu yang belum tentu terjadi, dalam syariat tidak dibenarkan berangan-angan terlalu jauh sampai terhanyut dalam kecemasan-kecemasan yang hanya berasal dari dugaan semata.
Fokuslah pada hari ini, hari inilah yang kita jalani, bukan hari yang telah berlalu dan juga bukan hari esok yang belum tentu datang. Anggaplah kita hanya hidup di hari ini, maka lakukanlah segala sesuatunya dengan usaha terbaik, isi hari ini hanya dengan kebaikan dan hal-hal berguna, dengan begitu kita tak akan tercabik-cabik di antara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan. Hindarilah waktu kosong yang terlalu banyak, karena pada saat tak beraktivitas itulah godaan dan bisikan setan akan leluasa menyelinap masuk ke dalam diri kita, lalu dengan mudah membangkitkan perasaan gundah dan cemas yang sama sekali tidak memberikan manfaat.
|
Selain memberi nasihat-nasihat yang menyegarkan bathin kita dalam kehidupan pribadi, Al-Qarni juga memberikan tips-tips sederhana dalam berhubungan dengan orang lain, seperti bagaimana menyikapi kritik atau gunjingan, menyikapi perbedaan, sikap peduli terhadap orang lain dan sebagainya. La Tahzan cukup lengkap dalam memberikan pemahaman-pemahaman yang mengajak kita untuk bersikap optimis menghadapi hidup dan melupakan kesedihan, di susun dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna sehingga memudahkan kita untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. |
|
Tersenyumlah dan nikmati hari anda 
Posted at 05:14 pm by Andi
Permalink
|
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
 |
|
 |