|
yang lengang, sebagian besar pulau masih berupa hutan dan rawa, pemukiman yang masih jarang, dan ditambah lagi dengan 'image' yang terbentuk dari cerita orang-orang yang aku dengar tentang pulau ini. Tapi itu tadi, dengan modal nekat, cuek dan percaya diri, tur pun berlanjut. Tempat wisata yang pertama kali kami kunjungi adalah sebuah Goa yang diberi nama "Goa Ratu". Goa ini panjangnya sekitar 4,5 km dan berujung di pantai selatan, untuk menelusuri goa ini ga bisa sembarangan karena pada kedalaman lebih dari 100 m aja udah butuh tabung oksigen, katanya baru sedikit orang yang mampu menelusuri goa ini sampai ke ujung. Kami ditawari untuk masuk ke goa tapi hanya kurang dari 100 m, dan kami setuju. Sambil menunggu alat penerangan (lampu petromak) tiba, kami ditawari cinderamata berupa batu2 akik (tapi sayangnya aku ga suka sih, jadi ga beli). Ketika aku mengamati para penjualnya, aku agak sedikit ngeri juga, karena hampir semua penjual itu memiliki tato yang cukup banyak menghiasi (atau mengotori ya..) tubuh mereka. Setelah sedikit berbincang2, ternyata meraka adalah alumni pemasyarakatan Nusakambangan, setelah mereka lulus, kemudian mereka masih ingin tinggal di Nusakambangan, atau kalo boleh aku duga, mereka tidak punya tempat untuk kembali. Tapi seperti kata Seurieus... "alumni LP juga Manusia, punya rasa, punya hati, jangan samakan dengan pisau belati...", mereka hanyalah orang yang mungkin dulu pernah khilaf dan ingin kembali diterima masyarakat. Kalo aku amati sih mereka cukup ramah, hanya pembawaannya aja yang menyisakan bekas masa2 suram mereka, tapi sudahlah...itu masa lalu mereka. Beberapa menit kami menunggu, serombongan peserta tur dalam 2 mobil tiba di goa Ratu, akhirnya...ada tambahan orang juga, aku jadi lebih lega. Kami hanya di ajak masuk kurang dari 100 meter aja, itu aja udah agak sulit karena lantai goa yang becek sisa hujan semalam dan sangat gelap soalnya lampu petromaknya cuma 2. Di dalam goa, seperti goa pada umumnya banyak terdapat bentukan2 batu, stalaktit, stalakmit, apalagi ya...ya kaya' gitu deh dengan dinding2 bertekstur yang menurutku sangat indah. Tapi sayangnya, katanya pada saat2 tertentu masih sering digunakan orang2 salah tujuan bersemedi atau melakukan ritual aneh di tempat itu. Setelah jeprat sana-jepret sini, berpose, ngedengerin cerita tentang goa ini, kami keluar dari goa dan melanjutkan perjalanan menuju pantai.
Dalam perjalanan kami menemukan beberapa pemukiman penduduk, tapi masih sangat jarang dan tetap saja...terasa sepi, tapi anehnya di sana ada sekolah tinggi ilmu hukum (aku lupa namanya...sorry), aku berpikir...siapa yang mau kuliah di sana ya? hehe. Kami juga melewati beberapa rutan, di antaranya rutan batu (kostnya Tommy), rutan kembang kuning, trus apalagi ya...lupa, kata pemandunya ada 5 atau 6 (aku lupa juga) rutan di Nusakambangan. Dari Goa ratu menuju pantai kami tempuh kurang lebih selama 20 menit dengan jalan yang meskipun sudah diaspal tapi banyak lubang di sana-sini. Pertama kali melihat pantai, aku langsung menilai bahwa pantai ini indah banget, perpaduan antara batu karang, pasir, laut, sedikit rerumputan, dan bentuk pantainya memang sangat indah. Pengennya sih langsung ngejebur atau hanya sekedar main di pinggir pantai, tapi suasananya lagi panas banget (maklum tengah hari) dan ombaknya juga cukup tinggi, lumayan menakutkan bagi orang yang ga bisa renang :) Di salah satu pulau karang kecil yang ga jauh dari pantai, tertancap pisau komando beton khas Kopasus, katanya mereka sering latihan juga di sini. Kami berteduh di sebuah tempat yang disediakan untuk duduk santai sambil memandang lepas ke arah pantai dan laut selatan, dan seperti biasa...sambil jepret sana-jepret sini. Waktu masih enak2nya menikmati suasana pantai, dari kejauhan pemandu kami melambaikan tangan agar kami segera kembali, karena waktu tur sudah hampir habis, dan kami juga harus ikut jadwal penyeberangan kapal berikutnya. Untuk kembali ke pelabuhan dibutuhkan waktu sekitar 30 menit. Setelah beberapa menit menunggu (sambil beristirahat), akhirnya kapal veri-nya datang juga. Perlahan kapal mulai bergerak meninggalkan pulau Nusakambangan, aku terus mengamati pulau itu yang semakin menjauh dari pandangan. Pulau yang indah, tak semenakutkan 'image' yang menempel padanya...gumamku dalam hati
beberapa hasil jepret sana-jepret sini:
|