Friday, March 04, 2005
Wajah Sinetron Remaja Indonesia

Sebenernya gw bukan orang yang sering nonton acara TV, tapi gw jadi pengen kasih komentar tentang sinetron remaja yang lumayan mengusik rasa kritis gw. Gw ngerasa tokoh yang ada di dalam sinetron2 remaja itu bukanlah seorang remaja, lebih terkesan tokoh dewasa yang dibuat kekanak-kanakan, dan para pemainnya adalah anak2 yang dipaksa untuk dewasa. Gw ga melihat keceriaan khas remaja atau minimal suasana sekolah yang khas seperti yang gw alami sejak SD ampe SMU.

Tema sinetron remaja kita saat ini ga jauh2 dari soal cewe2 yang ngerebutin cowo atau sebaliknya, persaingan untuk menjadi orang beken di sekolah, pamer kekayaan ortu ke sekolah, seragam sekolah yang superketat+mini, takhayul, kehidupan yang glamour, cerita yang ga mungkin terjadi di dunia nyata, dan peran orang tuanya ga jauh2 dari soal rebutan harta. Mungkin cerita2 itu memang ada dalam kenyataan, tapi persentasenya berapa banyak sih? Kenapa mereka para pemilik production house, sutradara, dsb tidak berusaha menggali hal2 positif di dunia remaja dan menampilkannya dalam sinetron yang dikemas dengan cerita yang menarik tapi sisi edukasinya tetap ditonjolkan. Gw jarang melihat kesetiakawanan yang tulus, hormat kepada guru, tawa-canda ceria khas anak SD/SMP/SMU, semangat untuk merancang masa depannya, serunya kegiatan ekskul, serunya persaingan ranking kelas, serunya class meeting, atau menyentuhnya kisah perjuangan anak dari desa yang ingin tetap sekolah di kota.

Yang paling gw khawatirkan cuma 1, gw khawatir adik2 kita yang masih sekolah menganggap cerita dan tokoh2 di sinetron adalah sesuatu yang baik untuk ditiru, menganggap wajar dan memang seperti itulah dunia sekolah. Gw takut kalo sinetron bukan menggambarkan kehidupan remaja, tapi sinetronlah yang malah membentuk karakter remaja kita...kalo membentuknya ke arah positif sih, gw pasti dukung 110%, tapi kenyataannya....ga begitu kan...???

Posted at 04:34 pm by Andi

pinky
March 6, 2005   01:32 PM PST
 
andi, lu mau ga jadi artis sinetron?
:p
aby
March 6, 2005   04:09 PM PST
 
Mau bwanget gitu lho....tapi kalo ceritanya membumi dan lawan mainnya dian sastro kekekek :P (sayangnya Dian ga main sinetron sih heheh)
vi3
March 7, 2005   01:42 PM PST
 
setuju!! vi3 juga sebel liat sinetron remaja gitu.. jadi inget dulu film ACI waktu vi3 masih imud dulu.. itu sinetron bagus ttg persahabatan dan kegiatan sekolah.. kenapa ndak dibuat cerita kek itu ya?
pinky
March 7, 2005   10:54 PM PST
 
ndi, lu makan yg byk dunk
biar kayak apink neh, ndhut haha
miss ya!
andriw
March 9, 2005   11:16 AM PST
 
AH, gw ga setuju. cari entri di blog gw tentang sinetron Indonesia. Viva sinetron Indonesia, lah :D

Yang hrs dikawatirkan, IMHO, bukan programnya, tapi kontrol keluarga. That's it. TV tetaplah sebagai stupid box, ga berarti apa-apa. I don't fear any of those television programs, but I fear lack of compassions of the family.

So, viva sinetron Indonesia :P
aby
March 9, 2005   01:21 PM PST
 
bener sih...kontrol orang tua pegang peranan no 1, tapi siapa sih yang jamin bisa memantau anak2nya terus menerus...dan ketika anak beranjak dewasa, apakah dia merasa nyaman kalo selalu dipantau? kalo nyalain TV terus programnya bagus...bukankah itu lebih baik??? TV emang stupid box, tapi kalo isi box itu bagus...bukankah hidup jadi lebih baik??? hehehe
andriw
March 9, 2005   02:16 PM PST
 
Asik, chating di komennya sijagur. Playing Devil's advocate here. Biar ah. Gene neh, alasan klasiknya adalah Marketability. Itu juga yg melatarbelakangi hampir semua program TV sekarang. I agree that at some points, sinetron & other tv programs s***s. Tapi perlu diingat, bahwa ga ada kewajiban bagi PH manapun untuk memberikan muatan pendidikan atau apapun. Dan ga ada regulasi yg menentangnya, lho.

Nope, saya samasekali ga membenarkan bahwa sinetron boleh memuntahkan apa saja di TV, tapi realitas bicara lain. So the last thing to be done is "Just watch your family out." Take control on the television.
Belum lagi kalo udh langganan TV kabel/satelit ya Ndi?
But I agree dengan kamu Ndi. Sinetron Indonesia tuh lack of creativity. :D
aby
March 9, 2005   03:53 PM PST
 
emang sih...ngasih edukasi itu cuma tuntutan moral aja. Tapi ada satu posisi tawar yang kuat dari para penonton untuk para PH lhoo...PH bikin sinetron, sinetron dibeli sama stasiun TV, operasional stasiun TV dibiayai oleh iklan, produk iklan dibeli oleh konsumen yang hampir seluruhnya adalah juga penonton TV. Jadi penonton TV yang bisa disamadengankan konsumen produk, menurut saya bisa menuntut TV untuk memberikan tontonan yang edukatif. Nah aku cuma mau buka wacana, mudah2an orang bisa menyadari bahwa kebanyakan tontonan terutama sinetron berisi murni hiburan (bagi sebagian orang) yang isinya jarang sekali bersifat edukatif malah cenderung destruktif terhadap pendidikan moral. Jika banyak orang yang peduli tentang itu, aku harap nantinya kita bisa menuntut, bukan sebagai penonton, tetapi sebagai konsumen produk yang membiayai operasional stasiun TV. Dan satu hal yang cukup penting, "bukanlah sesuatu yang tidak mungkin untuk memberikan tontonan menghibur tapi sekaligus mendidik". Aku jadi inget teletubbies, katanya untuk bikin serial teletubbies, sebelumnya udah ada research dulu, untuk mencari suatu bentuk hiburan untuk anak yang kental unsur pendidikannya...nah mungkin suatu saat nanti, muncul sineas2 kreatif yang ngga hanya bikin suatu pertunjukan hiburan aja, tapi bisa bikin "teletubbies" untuk remaja atau dewasa gitu....

"Let's make our environment better"
kukuh
March 10, 2005   08:06 AM PST
 
Gimana ndi ? mau "clash action" ke sta TV?
andriw
March 10, 2005   09:45 AM PST
 
Class Action, huahauhauah. Gimana kalo pake petitiononline kaya sekarang pada pake buat pembebasan fiskal?
aby
March 10, 2005   11:17 AM PST
 
Petisi mungkin salah satu jalan, tapi lebih penting kesadaran orang2nya dulu kali ya...hehehe
SuperYosq
March 28, 2005   09:06 AM PST
 
Kalau menurut pengamatan saya sih, sinetron kita "nembak" / njiplak dari cerita INDIA... HE HE HE.. .sorry, mungkin sejak kecil, umur 10 tahun (1978) saya sering diajak nenek saya nonton pilem India di bioskop, jadi apal deh sistem ceritanya. Cuma, sekarang sudah dipoles jadi lebih modern, gitu.
Term papers
December 16, 2009   06:00 PM PST
 
It’s great to see good information being shared.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry

Andi Suhendra

Aku lahir di Serang, 21 Oktober 1980. Dari lahir ampe SMU di Serang, trus lanjutin kuliah di dJogdja tercinta. Sekarang tinggal dan kerja di Jakarta. Sekarang ini setelah menikah I am living in Balikpapan..

____________________


Ini tempatku menumpahkan segala yang terlintas dalam benak, tempatku berbagi cerita, hoby, etc. Hope you like it and share your everything with me

____________________

Entries-nya Sijagur

Lorong Sunyi ~

Ayat-Ayat Cinta ~

D I A M ~

La Tahzan ~

Life is Nothing but Choices ~

Restart! ~

Great Song from Coldplay ~

Another Day in Another Paradise ~

Sebuah catatan di akhir bulan Juni ~

Ujian...bagaimana menyikapinya? ~

Mengerti & Dimengerti ~

Kata Hati ~

Sebuah Pilihan... ~

Wajah Sinetron Remaja Indonesia ~

Road to Bandoenk - kursus singkat fotografi ~

NUSAKAMBANGAN - tak semenakutkan ... ~

Aby & Maira ~

I want to be like Tim !!! ~

Tebakan yukkk.... ~

What You Want Is Not What You Get ~

Kisah Seorang Pendo'a ~

Dongeng ketika tidur... ~

MUSE "Hysteria" ~

Renungan hari ini (180904) ~

____________________



   







If you want to be updated on this weblog Enter your email here:
rss feed