|
Puff *mengelap keringat di dahi* J Cukup berbangga minggu ini aku bisa menyelesaikan 2 buah buku yang menakjubkan. Meskipun sebenernya salah satu buku itu (La Tahzan) sudah mulai aku baca sejak pertengahan Maret 06, jadi lebih dari 3 bulan untuk menyelesaikannya, akhir-akhir ini aku emang jadi pembaca buku yang payah. Tapi untuk buku yang satu lagi, yaitu Ayat-ayat Cinta-nya Habiburrahman El Shirazy, aku cuma butuh waktu 2 hari untuk meyelesaikannya, cukup membanggakan, sekaligus memecahkan rekor tercepatku membaca buku yang sebelumnya dipegang oleh buku Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder pemberian Iyank (thanks ya yank) yang membutuhkan waktu tidak sampai 1 minggu untuk menyelesaikannya, padahal bukunya lumayan tebel. Ada 2 faktor yang mendukung sehingga buku ini diselesaikan dengan cukup cepat disela-sela rutinitasku yang melelahkan setiap hari. Faktor yang pertama dan yang terpenting, adalah karena cerita dalam buku ini sendiri dengan karakter tokoh-tokohnya yang kuat, membuat aku jatuh cinta dengan novel ini dan ingin selalu membacanya. Semula aku pikir isinya hanya kisah percintaan "biasa" yang sedikit diberi bumbu nuansa Islami, makanya udah lama aku Ayat-Ayat Cinta bercerita tentang keseharian seorang pelajar yang sedang berjuang menyelesaikan studinya di negri Seribu Menara, namun tentu saja tidak akan menarik jika hanya bercerita tentang kesehariannya saja, seting waktu dalam kehidupan si tokoh yaitu Fahri Abdullah dalam novel ini mungkin merupakan fase terpenting dalam kehidupannya, makanya ceritanya menjadi sangat menarik. Aku ga akan bercerita banyak tentang jalan ceritanya, karena tidak akan semenarik, se-menghipnotis dan se-mengharukan jika langsung membacanya. Aku cuma sedikit berbagi pandanganku tentang tokoh utama novel ini. Pada awalnya aku agak sinis dengan tokoh Fahri, karena akhlaknya mendekati sempurna, aku jadi mempertanyakan: masih adakah pemuda dengan akhlak semulia itu di jaman sekarang? He is too good to be exist on planet earth! Aku berhenti membaca beberapa waktu untuk memikirkannya. Tapi kemudian aku membalik pemikiranku, it's just a fiction book, no need to be asked, memang terlalu sempurna untuk jadi kenyataan, tapi bukankah akhlak pemuda muslim memang harusnya seperti itu? Aku malah jadi malu, betapa jauh aku dari contoh yang ideal itu. Sungguh buku yang memberikan inspirasi. Aku mengacungkan 2 jempol untuk Habiburrahman El Shirazy, terima kasih untuk cerita indah, romantis, relijius, mendebarkan sekaligus mengharukan. Aku hampir aja lupa menyebutkan 1 faktor lain yang bikin aku bisa lumayan cepat membaca novel ini, dan aku pikir tidak kalah penting dengan alasan pertama, yaitu pada 2 hari kemarin, pertandingan sepak bola piala dunia sedang libur dulu sebelum memasuki babak perempat final hehehe Ahhh dasar Andi
|
| Leave a Comment: |